Tampilkan postingan dengan label blog pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog pribadi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 November 2015

TRI BUDIYANTO

Semua hal pengalaman nyata yang tertuang di dunia maya.

Masa Lalu di Masa Kini.

Masa kini seseorang itu dibagi dua:
1. Yang berusaha mencapai masa depan
2. Yang masih tenggelam di masa lalu.

Kamu yang mana?

Kalo kata orang-orang, jangan suka melihat ke belakang, nanti nggak fokus sama yang di depan. Masa lalu itu ibarat spion, yang boleh kita tengok sesekali tapi fokus kita tetep ke tujuan di depan kita. Jangan sampe keseringan liat spion, eh malah nabrak. Jangan sampe juga nggak pernah ngeliat spion, eh taunya ditabrak. Tujuan spion itu satu; biar kita hati-hati. Hati-hati menuju ke depan dan hati-hati menatap ke belakang.

Masa lalu itu bagian dari diri seseorang yang nggak bisa dipisahkan, dilupakan, atau dibuang. Kalo kamu mencintai seseorang, terimalah ia bersama seluruh baik dan buruk kenangan masa lalunya. Dan jika kamu ingin dicintai seseorang, simpanlah masa lalumu sebagai sesuatu yang pernah kamu lewati dengan tawa dan tangis, suka dan duka, harapan dan asa, bukan membiarkannya mengganggu masa kinimu.

Seringkali yang tidak kamu sadari adalah, kamu membiarkan masa lalumu menghantui, sementara di sampingmu ada seseorang yang dengan susah payah membuatmu bahagia. Adilkah untuknya? Saya rasa enggak. Dia, (mungkin) dengan setumpuk luka masa lalu dan dengan berbagai ketakutan, berusaha menjadikan masa lalunya sebagai pelajaran dan pengalaman, agar ia bisa mendampingimu dengan sebaik-baiknya. Dan kamu, kamu masih aja tenggelam dalam kenangan, berharap dan bergumam “coba dulu nggak begini”, “coba dulu gue begitu”, “harusnya gue sama dia dulu blabla..”

Udah berapa orang yang sakit hati karena pasangannya ternyata belom move on dari mantannya? Udah berapa hati yang terluka karena mengetahui bahwa seseorang yang ia cintai ternyata masih menggenggam hati yang lain? Banyak. Mungkin termasuk saya. Dunia rasanya terbalik, saat mengetahui bahwa wajah yang ada di pikirannya ketika ia memelukmu bukanlah wajahmu. Apakah benar-benar tubuhku yang ingin kamu peluk? Apakah...,apkah... bla bla pokok nya?

Banyak orang yang dengan lapang dada memberikan telinganya untuk mendengar hal-hal yang mungkin melukainya, karena baginya, pasangan yang baik adalah pendengar yang baik. Bukan berarti saya cuma mau dengerin dia memuji saya, tapi, paling tidak dia bisa memilah mana yang pantas dibicarakan dan mana yang sebaiknya tidak diucapkan. Begitupun dengan kamu, kamu, kamu, dan kamu, kan? Minyak goreng aja lewat dua kali penyaringan, masa omongan asal keluar aja? Tapi ya gapapa, semoga kesabaran selalu bersama kamu, kalo udah nggak kuat coba lambaikan tangan ke cctv.

Sepedih-pedihnya mencintai adalah mencintai seseorang yang separuh dirinya masih tertinggal di rumah yang lama, tak peduli seberapa indah dan mewahnya rumah yang baru. Semua soal keinginan untuk pindah, keinginan untuk memulai membangun rumah baru, ruangan demi ruangan, keinginan untuk menjadikannya tempat ternyaman untuk tinggal. Bukan soal memperbaiki rumah lama yang sudah dimiliki orang lain.

Sebaik-baiknya orang adalah mereka yang menghargai setiap detik waktu yang berlalu, setiap orang yang datang, dan setiap momen yang terjadi di hidup mereka. Sebab, kamu nggak akan pernah tau kapan mereka akan pergi, dan ketika kamu sadar, mungkin yang kamu punya hanyalah penyesalan. Apa yang kini ada di hidup kamu sesungguhnya jauh lebih berharga dibanding apa yang dulu kamu lewati dan menyisakan luka. Cobalah memahami bahwa sekalipun kamu terluka, bukan berarti kamu mempunyai hak untuk melukai orang lain.

 

Saya Cinta Kamu.

Mungkin, bagi sebagian orang, bilang “aku cinta kamu” bukanlah hal yang penting, karena namanya cinta itu lebih baik dibuktiin lewat tindakan bukan cuma kata-kata. Tapi, ada pula sebagian orang yang menganggap bahwa perasaan itu selain dibuktikan, ya harus diungkapkan. Apapun itu, lakukanlah dengan sepenuh hati.

Seperti saat ini..

Saya mencintai kamu, dengan segala kekurangan yang ada di dalam dirimu. Saya tak peduli seburuk apapun kamu, sekelam apapun masa lalumu, sehancur apapun keadaanmu kini. Kenyataan bahwa kamu pernah membuat saya kecewa begitu dalam, seketika termaafkan. Bodoh? Ya, itu saya.

Saya pernah menangis, tersenyum, tertawa terbahak-bahak karena kamu. Saya pernah sangat rindu, sangat benci, sangat marah, pun kepada kamu. Dan kenyataan bahwa saya masih mencintaimu membuat saya menelan semua rasa itu tanpa mengeluh.

Apakah cinta itu membuat seseorang buta dan tuli? Saya rasa, tidak. Buat saya, cinta saya kepada kamu hanya membuat saya mengesampingkan logika. Saya masih bisa mendengar omongan buruk dari mulut orang lain tentang kamu, saya masih bisa melihat kamu melakukan kesalahan, namun, saya tak pernah menghiraukan.

Apakah membuktikan rasa cinta jauh lebih penting dari pada mengungkapkannya? Buat saya sih nggak ada yang lebih penting, semua harus dilakukan dengan seimbang. Dia juga pengen denger saya bilang “aku cinta kamu” sesekali, dan saya juga pengen meyakinkan dia bahwa semua itu bukan sekedar kata-kata. Bagi saya yang terpenting, jangan mengatakannya kalau kamu tidak sedikitpun merasakannya.

Apakah cinta tak harus memiliki? Ya. Sama seperti memiliki tak selalu dicintai. Banyak yang bersama, namun hanya sekedar fisiknya. Banyak yang terpisah, namun hatinya tak pernah ke mana-mana. Banyak yang berpindah kota, namun tetap tinggal di dalam satu kenangan. Cinta tak sesederhana dua orang yang bertemu kemudian bisa saling memiliki raga dan hati, cinta selalu membutuhkan perjuangan, dan manusia membuatnya semakin rumit.

Apakah cinta itu pamrih? Selalu. Mereka yang mencintai, selalu ingin dibalas cintanya. Mereka yang berjuang, ingin dilihat perjuangannya. Mereka yang hadir, ingin dihargai kehadirannya. Mereka ingin, namun, ketika mereka sadar mereka nggak bisa, mereka harus ikhlas.

Cinta itu seringkali bikin logika kalah sama hati, makanya banyak yang kadang terlihat nggak masuk akal. Sah-sah aja cinta banget sama orang, tapi coba renungkan; apakah dia pantas? Apakah kamu layak untuk dia? Banyak yang jawabannya “tidak”, tapi masih denial. Ujung-ujungnya, ya sakit hati sendiri.

Cinta adalah pilihan. Saya memilih mencintai kamu, saya memilih berusaha membahagiakan kamu, saya memilih membuat kamu senang di hari-hari terburukmu, saya memilih untuk masih di sini. Dan kamu, kamu bisa memilih mengabaikan saya atau paling tidak, menghargai kehadiran saya, jika memang kamu tidak bisa membalas cinta saya.

Saya cinta kamu, kamu yang dulu meninggalkan mereka untuk saya, kamu yang dulu menginginkan saya, kamu yang dulu bilang “terima kasih sudah hadir di hidup saya”. Kamu, yang dulu masih milik saya.
Edan saya sndiri smbil mikir klok saya jelasin itu smua ke pasangan sya ,bisa" dikira pak ustad lgi dakwah hahha

 

Cinta Itu Dua Hati, Bukan Tiga.
Ini pengakuan sya srbagai cwo ni ye
“Cowok itu di mana-mana sama aja, tukang selingkuh!”
Jadi, mungkin kamu aja yang nggak cukup pintar dan mau belajar dari kesalahan, makanya terjerumus di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Cowok itu beda-beda, sama seperti cewek, mereka juga nggak mau disama-samain atau dibanding-bandingin. Nggak percaya setiap cowok berbeda? Coba liat giginya. Ada yang sebelah atas lebih gede 2, ada yang sebelah bawah lebih naik. Macam drakula ,Nggak semua cowok suka selingkuh, dan nggak semua cowok bajingan kok

Oke tulisan barusan nggak nyambung, karena gue cuma pengen aja nulis gitu.

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Seperti judulnya, isi tulisan ini adalah soal perselingkuhan. Soal kepercayaan yang dirusak, soal cinta yang disia-siakan, soal kekhawatiran yang menjadi percuma, soal waktu yang terbuang sia-sia, soal hati yang sesak dan terluka, soal isi kepala yang semrawut , soal rasa rindu yang digantikan rasa benci, Soal memilih orang yang salah.buanyak lagi

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Itulah kenapa lambangnya <3, karena cinta itu kurang dari tiga. Itulah kenapa saya meninggalkanmu, sebab saya tak bisa membagimu seujung kuku pun. Ya, saya egois soal memiliki. Saya nggak pernah suka ada “dia”.

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Itulah kenapa hanya Adam dan Hawa yang diciptakan, bukan Adam dan Hawa dan julia peres wooow, bukan juga Adam dan Hawa dan wasito hus itu bapaku . Begitu banyaknya pembenaran untuk mereka, sebanyak kebohongan yang mereka lontarkan setiap kali mencari alasan.

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

“Kamu ga bisa ngertiin aku, sementara dia bisa!”
“alis kmu kok gitu,tai lalatmu kok palsu,ih rambut nya kok ribondingan

Hey. Bukankah mencintai itu perihal mengisi kekurangan satu sama lain? Bukankah mencintai itu ketika kamu bisa menutup mata akan keburukan masa lalunya? Bukankah mencintai itu perihal beradaptasi dan mentolelir(memaklumi) setiap perbedaan yang ada? Entahlah. Rasanya kayak 1 kekurangan menjadi 1000, 1000 kebaikan menjadi 1. Mungkin ia masih mampu mencari sejuta kekurangan pasangannya lagi.

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Saya nggak ngerti gimana dia yang lagi selingkuh bisa tega membohongi pasangannya yang mungkin lagi mengkhawatirkan keadaannya, Apa rasanya memeluk tubuh orang lain ketika tubuh pasanganmu hanya memeluk guling? Apa rasanya merayu rayu,ngegombal orang lain ketika pasanganmu berkata “pulang hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut…”? Apa rasanya terbangun di sisi orang lain ketika pasanganmu mengirimimu pesan “selamat pagi, jangan lupa sarapan ya, semangat kerja…”?

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

di saat jomblo-jomblo hanya bisa menghayal punya cewek kaya artis. Tapi tak apa, coba doakan dia bahagia, agar dia tak perlu lagi mengambil kebahagiaan orang dengan pergi bersama selingkuhan.

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Pada akhirnya, bukan waktu yang akan menyembuhkan, tapi rasa ikhlas untuk melepaskan. Melepaskan semua yang pernah ada dan terjadi. Amarah dan rasa benci pasti datang, namun, biarkan kerelaan yang menang. Gapapa nangis, sebab itu adalah cara tersehat untuk melepaskan kemarahan. Gapapa dibilang anak kecil karena ngeblock,delete semua medsos dan kontaknya, kalo itu emang bikin kamu tenang dan menjauhkan dia dari pikiranmu. Gapapa nggak mau ketemu, kalo itu bisa menghindari kamu dari nonjokkin dia dan ngejepret matanya. Jangan biarkan orang lain ngatur gimana kamu harus melewati patah hati kamu, toh kamu yang merasakan gimana sakit dan kecewanya. Mereka tau apa?

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Komitmen, kesetiaan, dan kepercayaan itu satu paket. Ketiganya bagaikan tiang yang menyangga suatu hubungan, hilang satu, runtuh. Itulah kenapa sebaiknya kamu menyelesaikan hubungan yang sudah dinodai perselingkuhan, sebab kamu tak bisa berteduh di rumah yang dinding-dindingnya telah runtuh.

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Untuk siapapun yang diselingkuhi, saya nggak punya kata-kata lain untuk kamu selain sabar. Sabar melewati kemarahan dan kebencian yang setiap hari menghantui, sabar menjalani hari-hari penuh bayang-bayang kebrengsekan mereka, dan sabar menanti datangnya orang yang lebih pantas dan tepat. Jangan terburu-buru, biarkan lukamu sembuh dulu. Sebab ia yang tepat, pantas mendapatkan hatimu yang utuh.

Cinta itu dua hati, bukan tiga.

Untuk siapapun yang berselingkuh, saya hanya mendoakan semoga orang yang bikin kamu mengkhianati pasanganmu itu memang lebih baik, sebaik-baiknya orang. *btw kalo orang baik emang mau jadi selingkuhan?*
Semoga ia lebih peduli, lebih mau mendengarkan, lebih rajin mendoakan, lebih tak kenal lelah mendukung, lebih perhatian, lebih sering ngirimin makanan, lebih mau merawat ketika kamu sakit, lebih tulus tanpa tuntutan. Dan semoga, kamu tak perlu mengemis untuk kembali kepada yang telah kamu lukai.

 

 

Tuhan Itu Adil.

“Yaampun, liat deh, itu cowok/ceweknya cakep banget kok pacarnya gitu sih mukanya…”
“Ih, kok dia bisa sih pacaran sama cewek/cowok yang kayak gitu? Bajunya aja nggak pernah matching trus modelnya nggak up to date…”

Sering ngedenger kalimat itu? Biasanya dilontarkan dengan nada sebel dan agak jijik, kayak lagi ngebersihin eek kucing yang nempel di pinggiran sendal. Ya, beberapa orang emang senang menilai orang lain dari luarnya, nggak sepenuhnya salah, karena kita kenalan sama orang ya pasti ngeliat penampilannya dulu, baru bisa mengenal kepribadiannya. Tapi, apakah membandingkan itu perlu? Apakah lo ngerasa lebih baik dari dia? Atau lo sirik karena lo jomblo?

Tuhan itu adil, setiap orang dikaruniai kekurangan dan kelebihan. Nggak ada manusia yang sempurna, Pevita Pearce sekalipun. Buktinya, kesalahan bukanlah kesalahan apabila itu tidak salah. Tuhan itu adil, Dia nggak akan menciptakan manusia yang cuma punya kejelekan, semua punya sisi baik masing-masing yang seringkali nggak terlihat di mata manusia lain. Tuhan itu adil, kalo adul ya pelawak.

Kita terbiasa dengan dongeng dan sinetron yang menggambarkan bahwa pasangan sempurna itu harus yang dua-duanya cakep, kalo salah satu dirasa kurang, langsung dicela. Padahal kita nggak tau kepribadian orang tersebut, apa yang ngebedain dia sama orang lain, apa spesialnya dia, apa yang bikin orang lain suka dan nyaman deket sama dia, apa kelebihannya dia. Dan lagi, butuh lebih dari sekedar fisik untuk bisa membangun hubungan yang baik.

“Gue bingung, cowok cakep kayak dia kok pacarnya jelek…”

Mungkin gini ya, itu cowok nyari cewek yang attitudenya bagus, pinter, ramah, dan nggak suka menghina orang lain. Terus, masih mikir kenapa lo jomblo?

“Duh, ceweknya keren kok cowoknya kayak gembel…”

Gimana kalo itu cowok pengertian, baik, lucu, sabar, manis, pinter, romantis, tanggung jawab? Gimana kalo segala sifat baik dan sikap dewasa ada di diri dia? Gimana kalo dia jauh lebih menyenangkan dan bikin nyaman? Gue rasa cewek jauh lebih membutuhkan itu semua dibanding tampang ganteng nan rupawan dan penampilan keren. Bagi cewek, percuma ganteng kalo serigala.

Nggak, gue nggak ngajarin lo buat tampil seadanya. Penampilan luar dan dalam itu sama pentingnya, satu sama lain saling berkaitan. Lo nggak bisa cakep aja tapi bego atau jahat, lo juga nggak bisa baik aja tapi tampil berantakan kayak urap tumpah. Sebab untuk jatuh cinta, seseorang menggunakan mata dan hatinya.

Lepas dari itu semua, belajarlah memahami bahwa banyak hal yang lebih dipertimbangkan saat kita memilih pasangan, karena pada akhirnya yang bikin kita nyaman itu sifat dan sikap. Wajah mungkin bikin lo menoleh, tapi kepribadian yang akan bikin hati lo meleleh. Mata manusia nggak pernah sama, kecantikan/ketampanan itu relatif, tapi kebaikan itu mutlak.

Tuhan itu adil, Dia bakal nyiapin jodoh yang terbaik buat manusia berwajah kadang-cakep-kadang-jelek-kadang-ngepas kayak gue ini. Tuhan itu adil, Dia juga sering mempertemukan kita dengan orang yang luarnya-cakep-tapi-ternyata-dalemnya-busuk-banget biar kita bisa bersyukur. Tuhan itu adil, Dia akan mempertemukan kita dengan orang yang buruk lebih dulu sebelum kita dipertemukan dengan yang baik, biar mata kita lebih terbuka.

Jadi, buat lo yang pernah di-“cowok/ceweknya cakep kok pacarnya jelek”-in sama orang lain, lo harus bangga karena lo punya apa yang mereka nggak punya; pasangan dan kebahagaian